Minggu, 21 Juli 2013

TUNTUTAN WANITA KEPADA SUAMINYA: ANTARA JAMAN DAHULU DAN JAMAN SEKARANG

Banyak pada jaman sekarang seorang wanita yang minim ilmu agamanya akan menuntut suaminya:

"Tetangga kita di kantornya adalah kepala bagian, Papa juga kepala bagian, kenapa Papa nggak bisa beli kendaraan semewah dia"?
"Itu teman seangkatan Bapak waktu kuliah bisa beli rumah yang megah, kenapa Bapak tidak"?
"Tetangga kita perwira tinggi, Papa juga perwira tinggi, kenapa kita nggak bisa beli banyak apartemen seperti dia", dan lain sebagainya

Mereka menuntut agar suaminya memberinya kemewahan harta tanpa mempedulikan dari mana asalnya atau bagaimana caranya karena tidak tahan dengan life style teman-teman bergaulnya atau tidak tahan dengan penderitaan di dunia. Mereka tidak peduli apakah nafkah yang dia terima adalah hasil korupsi, memeras atau mengambil hak orang lain.

Sementara para wanita di zaman generasi salaf (terdahulu) yang shalih akan menuntut suaminya:

إِيَّاكَ وَكَسْبَ الْحَرَامِ، فَإِنَّا نَصْبِرُ عَلَى الْجُوْعِ وَلاَ نَصْبِرُ عَلىَ النَّارِ

“Jauhi olehmu penghasilan yang haram, karena kami mampu bersabar atas rasa lapar tapi kami tak mampu bersabar atas neraka.” (Mukhtashar Minhajul Qashidin).

Mereka mengatakan bisa menahan lapar dan penderitaan di dunia dan tidak bisa menahan penderitaan di akhirat. Karena mereka meyakini bahwa nafkah yang tidak halal hanya akan membawa seseorang yang memakannya dipanggang di neraka kelak. wal 'iyya dzubillah.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memang pernah bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ جَسَدٌ غُذِيَ بِحَرَامٍ

“Tidak akan masuk ke dalam surga sebuah jasad yang diberi makan dengan yang haram.” (Shahih Lighairihi, HR. Abu Ya’la, Al-Bazzar, Ath-Thabarani dalam kitab Al-Ausath dan Al-Baihaqi, dan sebagian sanadnya hasan. Shahih At-Targhib 2/150 no. 1730)

Sumber : Abu Nida Ummu Nida
https://www.facebook.com/AbuUmmuNida/posts/627555420589018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar