Sabtu, 20 Juli 2013

001. MAJELIS PERTAMA (Riwayat Imam Bukhair)


مختصر شرخ صحيح البخاري
Mukhtashar Syarah Shahih al-Bukhari
[
Memetik Faidah dan Pelajaran dari kitab Shahih al-Bukhari]

MENGENAL IMAM AL-BUKHARI

1.
Nasab Imam Al-Bukhari
Nama beliau adalah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah. Kunyah beliau adalah Abu Abdillah. Beliau lebih dikenal dengan nama Al-Bukhari. Yakni nisbat kepada nama daerah beliau berasal yaitu Bukhara. Beliau adalah Imam, Syaikhul Islam, al-Hafizh, Amirul Mukminin dalam hadits.

Ayah beliau yakni Isma’il adalah salah seorang yang bertakwa dan wara’, dan sempat belajar kepada Imam Malik rahimahullah dan berjumpa Hammad bin Zaid dan Imam Abdullah Ibnu Mubarak rahimahullah.


2.
Kelahiran Imam Al-Bukhari
Imam Al-Bukhari dilahirkan pada tanggal 13 Syawal 194 H setelah shalat Jum’at di Bukhara.

Ayah beliau wafat saat beliau masih kanak – kanak. Beliau tumbuh dan berkembang dalam asuhan ibu nya. Pada masa kanak – kanak, beliau sempat mengalami kebutaan. Yang akhirnya Allah Subahanahu wa ta’ala memberikan kesembuhan kepada beliau.

Pada suatu malam, Ibu beliau bermimpi melihat Nabi Ibrahim Al-Khalil Alaihissalam dan berkata kepada ibu beliau : “Wahai wanita, Allah telah mengembalikan penglihatan anak mu karena engkau banyak menangis (untuk berdoa kesembuhan untuk anak mu).” Dipagi harinya, penglihatan Al-Bukhari kembali normal.


3.
Bentuk Fisik Imam Al-Bukhari
Imam Bukhari memiliki tinggi yang sedang – sedang dan badan beliau kurus.

Imam Ibnu Adi rahimahullah mengatakan : “Aku pernah mendengar Hasan bin Husain Al-Bazzaz rahimahullah berkata : “Aku melihat Muhammad bin Ismail seorang yang berbadan kurus, tidak tinggi dan tidak (juga) pendek.” [Asami man rawa ‘anhum Muhammad bin Ismail al-Bukhari hal 60, Al-Hafizh Ibnu Adi]


4.
Perjalanan Imam Al-Bukhari Dalam Menuntut Ilmu
Imam Al-Bukhari rahimahullah memulai perjalanan menuntut ilmu sejak usia dini. Beliau telah menghafal Al-Qur’an semenjak kecil. Allah telah mengilhamkan beliau untuk menghafal hadits sejak beliau masih dimadrasah. Dimana beliau keluar dari madrasah pada usia 10 tahun.

Imam Al-Bukhari rahimahullah bercerita : “Aku diberi ilham untuk menghafal hadits sejak aku masih di madrasah. Saat itu, usiaku sekitar 10 tahun. Lalu Aku mulai belajar kepada Ad-Dakhili (seorang Imam Ahli Hadits) dan ulama lain nya. Suatu saat, beliau yakni Ad-Dakhili- membacakan satu hadits dihadapan orang – orang dengan sanadnya “Dari Sufyan dari Abu Zubair dari Ibrahim”. Maka aku berkata kepadanya : “Sesungguhnya Abu Zubair tidak meriwayatkan hadits dari Ibrahim.”
Ia pun menghardik ku. Lantas aku berkata : “Coba lihatlah kembali kitab aslinya (catatan mu).” Ia pun masuk kerumahnya dan meneliti kembali, kemudian keluar dan bertanya kepada ku : “Bagaimana penjelasan nya wahai anak?”
Aku menjawab : (Yang benar) adalah Zubair bin Adi dari Ibrahim.”
Beliau lantas mengambil pena ku dan mengoreksi kitabnya, seraya berkata “Engkau benar.”

Pada usia 16 tahun, beliau sudah menghafal kitab karangan Imam Waki rahimahullah dan kitab karangan Imam Ibnu Mubarak rahimahullah.

Pada usia 17 tahun, beliau telah dipercaya oleh salah seorang gurunya yakni Imam Muhammad bin Salam Al-Bikandi untuk mengoreksi karangkarangan nya.

Beliau berguru dari para ulama yang ada disekitar tempat tinggal beliau seperti Muhammad bin Salam Al-Bikandi, Abdullah bin Muhammad bin Abdullah bin Ja’far bin Yaman Al-Ju’fi al-Musnidi, dan ulama lain nya.

Pada usia 18 tahun, beliau bersama ibu dan saudaranya pergi haji ke Mekkah. Setelah selesai melaksanakan ibadah haji, beliau tetap bertahan dikota Mekkah untuk belajar hadits kepada para ulama disana sementara ibu dan saudara beliau pulang.

Beliau juga kekota Balkh, Naisabur, Ray, Baghdad, Bashrah, Kufah, Madinah, Mesir, Syam, dan lain nya. Beliau mendatangi kota itu dalam rangka mencari hadits dan mendatangi majelis SyaikhSyaikh yang mampuni dalam bidang hadits.

Imam Al-Bukhari berkata tentang gurunya : “Aku menulis hadits dari seribu lebih Syaikh. Dari setiap Syaikh itu, aku tulis sepuluh ribu riwayat bahkan lebih. Tidaklah ada hadits padaku kecuali aku sebutkan sanadnya juga.” [As-Siyar 12/407 dan Al-Bidayah 11/22]

Beliau juga pernah berkata : “Aku telah menulis hadits dari 1080 orang Syaikh. Semuanya adalah ahlul hadits. Mereka semua meyakini : “Iman adalah Perkataan dan Amal, bertambah dan berkurang.” [As-Siyar 12/395]

Kota Baghdad beliau masuki sampai 8 kali. Dan setiap memasukinya, beliau berjumpa dan berkumpul dengan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Imam Ahmad menganjurkan beliau untuk bermukim di Baghdad saja, tidak di Khurasan.

Diantara nama Ulama besar yang menjadi guru beliau adalah Imam Ishaq bin Rahuwaih, Imam Muhammad bin Yusuf Al-Firyabi, Imam Abu Nu’aim Fadhl bin Dukain, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ali bin Al-Madini, Imam Yahya bin Ma’in, Imam Makki bin Ibrahim al-Balkhi, Imam Abdan bin Utsman, Imam Abu Ashim An-Nabil, Imam Muhammad bin Isa Ath-Thabba’, Imam Khalid bin Yazid Al-Muqri murid dari Imam Hamzah dan masih banyak lagi.


5.
Kekuatan Hafalan Imam Al-Bukhari
Kekuatan hafalan Imam Al-Bukhari rahimahullah sudah diakui oleh para Ulama dimasanya. Bahkan banyak yang menceritakan kalau beliau langsung menghafal suatu kitab hanya dengan membacanya sekali saja.

Hasyid bin Isma’il rahimahullah pernah bercerita : “Dahulu Abu Abdillah (yakni kunyah nya Imam Al-Bukhari) bersama kami mendatangi para guru di Bashrah. Waktu itu ia masih belia, dan tidak tampak mencatat apa yang telah didengar dari syaikh.

Kami pun bertanya kepadanya : “Engkau menyertai kami mendengar hadits, tanpa mencatat nya. Apa yang kamu perbuat sebenarnya?”

16
hari kemudian Imam Al-Bukhari rahimahullah akhirnya menjawab : “Kalian telah sering bertanya dan mendesakku (dengan pertanyaan seperti ini). Coba tunjukkanlah apa yang telah kalian tulis.”

Maka kami mengeluarkan apa yang kami milik yang berjumlah lebih dari 15.000 hadits. Selanjutnya, ia menyebutkan seluruhnya dengan hafalan. Sampai akhirnya kami memperbaiki catatan – catatan kami melalui hafalan nya.

Kemudian ia berkata : “Apa kalian sangka aku bersama kalian hanya mainmain saja dan menyia – nyiakan hari – hariku.” Maka kamipun sadar, tidak ada seorang pun yang melebihinya.” [As-Siyar 12/407]

Kehebatan hafalan beliau juga tampak kektika Ulama Baghdad mendengar akan kedatangan Abu Abdillah Al-Bukhari ke kota mereka. Dengan sengaja, mereka itu mempersiapkan 100 hadits dan kemudian menukar dan merubah matan dan sanadnya. Mereka menukar matan satu sanad hadits dengan teks hadits yang lain dan begitu sebaliknya. Setiap orang memegangi 10 hadits yang nantinya akan diajukan kepada Abu Abdillah Al-Bukhari sebagai bahan ujian kekuatan hafalan nya.

Orang – orang pun berkumpul didalam majelis. Orang pertama menanyakan kepada Imam Al-Bukhari rahimahullah sepuluh hadits yang ia miliki satu persatu sampai selesai. Setiap kali ditanya, Imam al-Bukhari menjawab : “Saya tidak mengenal hadits ini” Para Ulama yang hadir pun saling menoleh kepada yang lain dan berkata : “Orang ini paham.” Sementara orang yang tidak tahu tujuan majelis itu diadakan menilai Imam al-Bukhari rahimahullah sebagai orang yang lemah hafalan nya.

Kemudian tampillah orang kedua, melakukan hal yang sama. Dan setiap kali mendengar satu hadits, beliau berkata sama : “Aku tidak mengenal hadits ini.”

Setelah (10 ulama itu) selesai menyampaikan hadits – haditsnya, Imam al-Bukhari rahimahullah menoleh kearah orang yang pertama seraya meluruskan : “Hadits mu yang pertama seharusnya demikian dan demikian, yang kedua seharusnya demikian dan demikian, yang ketiga seharusnya demikian dan seterusnya” sampai beliau membenarkan hadits yang kesepuluh. Setiap hadits beliau satukan dengan matan – matan nya yang sebenarnya. Beliau melakukan hal yang sama kepada para penguji lain nya sampai pada orang yang terakhir. Akhirnya orang pun benar – benar mengakui akan kehebatan hafalan beliau.” [As-Siyar 12/409 dan Al-Bidayah 11/22]

Di Samarkand, beliau menghadapi hal yang sama. 400 Ulama Ahli Hadits menguji beliau dengan hadits - hadits yang sanad dan nama rijal (para perawi) nya yang telah dicampuradukkan (antara hadits satu dengan yang lain), menempatkan sanad penduduk Syam ke dalam sanad penduduk Iraq, meletakkan matan hadits yang bukan pada sanad nya.

Lalu mereka (400 Ulama Ahli hadits) membacakan hadits - hadits dan sanad - sanad nya yang sudah campur aduk itu ke hadapan Imam al-Bukhari rahimahullah (untuk dikoreksi).
Dengan sigap, beliau mengoreksi setiap hadits dengan sanadnya dan menyatukan setiap hadits dengan sanadnya yang benar.

Para Ulama Ahli Hadits yang menyaksikan itu tidak menemukan satu kesalahan pun dalam peletakkan matan maupun penempatan posisi para perawinya." [As-Siyar 12/411 dan Al-Bidayah 11/22]

Dua kejadian ini sudah sangat cukup menjadikan bukti akan kekuatan dan kekokohan daya ingat Imam al-Bukhari rahimahullah, sebab tanpa ada persiapan sedikitpun dan tidak mengetahui apa yang akan dihadapi, ternyata beliau mampu melewati ujian tersebut.

Imam Al-Bukhari rahimahullah berkata : “Aku menghafal 100.000 (matan) hadits shahih dan 200.000 hadits yang tidak shahih.” [As-Siyar 12/415 dan Tahdzibul Kamal no 1172]


6.
Murid – Murid Imam Al-Bukhari
Imam al-Bukhari rahimahullah sangat menonjol didalam bidang ilmu hadits, sejak usia remaja. Banyak orang datang berduyun –duyun mendatangi beliau baik di majelis maupun ditempat lain nya.

Pernah, orangorang berilmu dari kota Basrah berjalan dibelakang beliau untuk mendengarkan hadits dan akhirnya mereka bisa menghentikan beliau disuatu jalan. Ribuan orang duduk berkumpul didekat beliau. Kebanyakn dari mereka menulis riwayat dari beliau. Waktu itu, beliau masih seorang remaja yang belum tumbuh jenggotnya. Beliau diminta untuk duduk disuatu jalan dan memperdengarkan riwayat – riwayat hadits.

Kedalaman ilmunya dalam bidang hadits yang didukung oleh kecerdasan dan daya ingat yang luar biasa, serta pemahaman tentang kandungan hadits dan penguasaan tentang periwayat hadits dan penyakitnya membentuk beliau menjadi seorang pakar hadits terkemuka sepanjang zaman. Kelebihankelebihan ini jelas menarik minat para penuntut ilmu untuk menghadiri majlis ilmunya.

Diantara murid beliau yang terkenal adalah Imam Muslim, Imam At-Tirmidzi, Imam Abu Hatim, Imam Ibnu Abi Dunya, Imam Ibrahim bin Ishaq al-Harbi dan Imam Ibnu Khuzaimah. Semoga Allah merahmati mereka semua.


7.
Ibadah Imam Al-Bukhari
Imam al-Bukhari rahimahullah juga menjadi teladan dalam ibadah dan akhlak sebagai bentuk pengamalan ilmunya. Setiap malam, beliau mengerjakan shalat malam sebanyak 13 rakaat (2 rakaat ba’da shalat isya, 11 shalat malam). Dan setiap malam dalam bulan Ramadhan beliau mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an. Beliau berinfaq dan bersedekah disiang dan malam.

Beliau dikenal sebagai orang yang pemberani, pemaaf, banyak berderma, berbudi pekerti luhur, zuhud terhadap dunia dan hati – hati dalam berbicara. Termasuk saat melakukan kritikan terhadap rawi haidts, beliau menggunakan bahasa yang halus.


8.
Pujian Ulama Terhadap Imam Al-Bukhari
a. Imam Nu’aim bin Hammad al-Khuza’i rahimahullah (wafat tahun 229 H) berkata : “Muhammad bin Ismail Al-Bukhari adalah orang yang faqih (faham agama) dari umat ini.” [Siyar A’lamin Nubala XII/419]

b. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah (guru al-Bukhari) (wafat tahun 241 H) berkata : “Belum pernah ada di Khurasan orang yang melahirkan anak seperti Muhammad bin Ismail al-Bukhari.” [Syiar A’lamin Nubala XII/419]

c. Imam Abu Hatim Ar-Razi rahimahullah (murid al-Bukhari) (wafat tahun 277 H) berkata : “Tidak ada orang yang keluar dari Khurasan yang lebih hafal dari Muhammad bin ismail al-Bukhari dan tidak ada yang datang ke Iraq yang lebih ‘alim dari al-Bukhari.” [Muqaddimah Fathul Baari hal 484, Ibnu Hajar]

d. Imam Abdullah bin Abdurrahman bin Fadhl bin Bahram ad-Darimi rahimahullah (wafat tahun 255 H) berkata : “Saya melihat Ulama di Haramain (Mekkah dan Madinah), Hijaz, Syam, dan Iraq. Dan tidak ada yang lebih sempurna daripada Muhammad bin Ismail al-Bukhari. Beliau adalah orang yang paling ‘alim diantara kami dan paling faqih serta paling banyak muridnya.” [Muqaddimah Fathul Baari hal 494]

e. Imam Abu Bakr Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah rahimahullah (murid al-Bukhari) (wafat tahun 311 H) berkata : “Tidak ada dibawah langit ini orang yang lebih alim tentang hadits dari pada Muhammad bin Ismail al-Bukhari.” [Muqaddimah Fathul Baari 485 dan Syarah Ilal at-Tirmidzi 1/494]

f. Imam Muhammad bin Isa at-Tirmidzi rahimahullah (murid al-Bukhari) (wafat tahun 279 H) berkata : “Saya tidak melihat di Iraq dan Khurasan ada orang yang lebih alim tentang penyakit (cacat) hadits, sejarah dan sanad – sanad daripada Muhammad bin Ismail al-Bukhari.” [Syarah Ilal At-Tirmidzi 1/494 dan Muqaddimah Fathul Baari hal 485]

g. Imam Ishaq bin Rahuwai rahimahullah (gurunya al-Bukhari) berkata : “Seandainya dia hidup di masa Hasan al-Bashri rahimahullah pastilah orang – orang membutuhkan nya karena penguasaan dan pemahaman nya terhadap hadits.”

h. Imam Muhammad bin Basysyar rahimahullah (gurunya al-Bukhari) berkata : “Ahli Hadits (Huffazh) didunia ini ada empat : Abu Zur’ah dari Ray, ad-Darimi dari Samarkand, Muhammad bin Ismail dari Bukhara dan Muslim dari Naisabur.”

i. Imam Qutaibah rahimahullah berkata : “Seandainya Muhammad bin Ismail al-Bukhari hidup dikalangan Sahabat Nabi, maka ia adalah Mukjizat (keajaiban bagi sahabat karena hafalan nya).”

j. Imam Raja al-Hafizh rahimahullah mengatakan : “Ia adalah salah satu tanda kekuasaan Allah yang berjalan diatas bumi ini.”


9.
Wafarnya Imam Al-Bukhari
Setelah sekian lama Imam Al-Bukhari mengisi umurnya dengan kesibukan menyebarkan ilmu hadits, maka kematian pun menjemput nya. Beliau sempat sakit sebelum meninggal. Beliau wafat pada hari Jum’at malam Sabtu, yang bertepatan pada malam hari raya Idul Fithri pada tahun 256 H dalam usia 62 tahun.

Jenazah beliau ditutup dengan tiga lembar kain putih, tanpa mengenakan Gamis maupun Imamah, sebagaimana isi wasiat yang beliau sampaikan sebelum meninggal. Saat proses pemakaman jenazah, tersebar aroma wangi yang lebih harum dari minyak misik dari kuburan nya dan sempat bau harum itu bertahan selama beberapa hari.


10.
Warisan Ilmu Imam al-Bukhari
Banyak ilmu yang telah beliau wariskan bagi kaum Muslimin. Ilmu beliau tetap mengalir atas usaha – usaha baik yang telah beliau lakukan dalam hidupnya. Diantara warisan – warisan ilmu yang beliau tinggalkan untuk kaum muslimin adalah Kitab Shahih Al-Bukhari, Al-Adabul Mufrad, At-Tarikh Ash-Shaghir, At-Tarikh Al-Kabir, At-Tarikh Al-Ausath, Khalqu Af’ali Al-‘Ibad, Juz fi Al-Qira’ah Khalfal Imam dan lain nya.

Demikianlah sekilas tentang Imam Muhamamd bin Ismail al-Bukhari rahimahullah penulis kitab Shahih al-Bukhari.

[
Diringkas dari Majalah As-Sunnah no 1 / thn XVI dari pembahasan Mabhats]

Abu Abdillah Prima Ibnu Firdaus ar-Roni al-Mirluny
Jambi, Kamis : 18 Dzulqo’dah 1433 H / 4 Oktober 2012 M

Tidak ada komentar:

Posting Komentar