Senin, 22 Juli 2013

005. MAJELIS KELIMA (Hadits 03. Wahyu Pertama)


مختصر شرح صحيح البخاري
Mukhtashar Syarah Shahih al-Bukhari
[
Memetik Faidah dan Pelajaran dari kitab Shahih al-Bukhari]

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarkatuh.
Bismillah. Alhamdulillah.
Semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada Rasulullah
Shallallahu'alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau, sahabat beliau dan orang yang mengikuti beliau dengan baik sampai akhir zaman.

Amma ba'du :

MATAN SHAHIH AL-BUKHARI
باب : 3
الحديث : 3
قال البخاري : حدّثنا يـحي بن بكير , قال . حدّثنا اللّيث . عن عقيل. عن ابن شهاب . عن عروة بن الزّبير . عن عائشة أمّ المؤمنين , أنّها قالت: " أوّل ما بدئ به رسول الله صلى الله عليه وسلم من الوحي الرّؤيا الصّالحة في النّوم، فكان لا يرى رؤيا إلاّ جاءت مثل فلق الصّبح، ثم حبّب إليه الخلاء , وكان يخلو بغار حراء , فيتحنّث فيه - وهو التّعبّد - اللّيالي ذوات العدد , قبل أن ينزع إلى أهله , ويتزوّد لذلك , ثمّ يرجع إلى خديجة فيتزوّد لمثلها, حتّى جاءه الحقّ وهو في غار حراء .

فجاءه الملك فقال: " اقرأ " , قال : " ما أنا بقارئ " قال : " فأخذني فغطّني حتّى بلغ منّي الجهد , ثمّ أرسلني , فقال : " اقرأ " , قلت : " ما أنا بقارئ " فأخذني فغطّني الثّانية حتّى بلغ منّي الجهد , ثمّ أرسلني , فقال: " اقرأ " , فقلت : " ما أنا بقارئ " فأخذني فغطّني الثّالثة , ثمّ أرسلني , فقال: " اقرأ باسم ربّك الّذي خلق . خلق الإنسان من علق . اقرأ وربّك الأكرم ".

فرجع بها رسول الله صلى الله عليه وسلم يرجف فؤاده , فدخل على خديجة بنت خويلد رضي الله عنها , فقال: " زمّلوني زمّلوني ". فزمّلوه حتّى ذهب عنه الرّوع , فقال لخديجة وأخبرها الخبر : " لقد خشيت على نفسي ". فقالت خديجة : " كلاّ والله ما يخزيك الله أبدا , إنّك لتصل الرّحم , وتحمل الكلّ , وتكسب المعدوم , وتقري الضّيف , وتعين على نوائب الحقّ .

فانطلقت به خديجة حتّى أتت به ورقة بن نوفل بن أسد بن عبد العزّى , ابن عمّ خديجة , وكان امرءا تنصّر في الجاهليّة , وكان يكتب الكتاب العبرانيّ , فيكتب من الإنجيل بالعبرانيّة ما شاء الله أن يكتب , وكان شيخا كبيرا قد عمي , فقالت له خديجة : " يا بن عمّ , اسمع من ابن أخيك ". فقال له ورقة : " يا بن أخي ماذا ترى !" فأخبره رسول الله صلى الله عليه وسلم خبر ما رأى . فقاله له ورقة : " هذا النّاموس , الّذي نزّل الله على موسى , يا ليتني فيها جذعا , ليتني أكون حيّا إذ يخرجك قومك ". فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : " أومخرجيّ هم ؟". قال : " نعم، لم يأت رجل قطّّّ بمثل ما جئت به إلاّ عودي , وإن يدركني يومك أنصرك نصرا مؤزّرا " . ثمّ لم ينشب ورقة أن توفّي , وفتر الوحي .

TERJEMAHAN MATAN :
Al-Bukhari berkata : Yahya bin Bukair menceritakan kepada kami, ia berkata : al-Laits menceritakan kepada kami, dari ‘Uqail, dari Ibnu Syihab, dari ‘Urwah bin az-Zubair, dari Aisyah Ummul Mukminin, Bahwasanya ia berkata : “Peristiwa yang dialami oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam saat pertama kali menerima wahyu adalah mimpi yang baik diwaktu tidur. Biasanya, setiap kali Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam melihat mimpinya pastilah mimpi itu datang seperti cahaya fajar. Kemudian beliau dibuat menjadi suka menyendiri. Beliau biasanya menyendiri ke Gua Hira’. Beliau menyendiri (yakni beribadah) dalam gua tersebut selama beberapa hari sebelum beliau kembali menemui keluarganya. Dan beliau biasanya telah menyiapkan bekal untuk itu. Kemudian beliau kembali menemui Khadijah untuk menyiapkan bekal beribadah di Gua Hira’ seperti biasanya. Hingga akhirnya datanglah kebenaran kepada beliau di Gua Hira’.

Lalu Malaikat datang menemui beliau. Malaikat itu berkata : “Bacalah.” Nabi menjawab : “Aku tidak bisa membaca.” Nabi meneruskan : “Malaikat itu mendekatiku lalu mendekapku hingga membuatku kepayahan, kemudian ia melepaskan dekapan nya dariku. Lalu berkata lagi : “Bacalah.” “Aku tidak bisa membaca.” Jawab ku. Malaikau itu mendekatiku lagi dan mendekapku untuk kedua kalinya hingga membuatku kepayahan. Kemudian ia melepaskan dekapan nya dariku. Lalu berkata lagi : “Bacalah” “Aku tidak bisa membaca” Jawab ku. Malaikat itu mendekatiku lagi dan mendekapku untuk ketiga kalinya hingga membuatku kepayahan. Kemudian ia melepaskan dekapan nya dariku. Lalu Malaikat itu berkata : “Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang Maha Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah.” [Al-Qur’an Surat Al-Alaq ayat 1 – 3]

Kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam kembali dengan nya sementara hatinya dalam keadaan takut. Ia langsung menemui Khadijah bintu Khuwailid Radhiyallahu’anha dan berkata : “Selimutilah aku, selimutilah aku.” Maka mereka pun menyelimutinya hingga hilanglah rasa takut beliau. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam menceritakan peristiwa yang baru saja dialaminya. Beliau berkata “Aku khawatir terhadap diriku.” Khadijah Radhiyallahu’anha berkata : “Sekali – kali tidak. Demi Allah, Allah tidak akan menghinakan mu selama – lamanya. Bukankah engkau selalu menyambung tali silaturrahim, suka membantu orang yang butuh pertolongan, suka member orang fakir, memuliakan tamu dan suka menolong dalam hal kebenaran.”

Khadijah Radhiyallahu’anha pun pergi membawa beliau menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin ‘Abdil ‘Uzza. Ia adalah sepupu Khadijah Radhiyallahu’anha, seorang penganut agama Nasrani pada masa Jahiliyyah. Ia adalah orang yang pandai menulis kitab dalam bahasa Ibrani dan menulis Injil dalam bahasa Ibrani sesuai dengan kehendak Allah. Selain itu, ia adalah seorang yang sudah berlanjut dan telah hilang penglihatan nya. Khadijah berkata kepadanya : “Wahai anak paman ku, dengarkanlah peristiwa yang dialami oleh anak saudaramu ini.” Waraqah berkata kepada nya : “Wahai anak saudara ku, apa yang engkau alami?” Lalu Rasululah Shallallahu’alaihi wa sallam menceritakan peristiwa yang beliau alami. Setelah mendengar cerita beliau. Waraqah berkata : “Ini adalah Namus yang dahulu diturunkan Allah kepada Musa. Duhai sekiranya dikala itu aku masih muda. Sekiranya aku masih hidup tatkala kaum mu mengusirmu” Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bertanya : “Apakah mereka akan mengusirku?” Naufal menjawab : “Benar, setiap orang yang datang membawa ajaran seperti yang engkau bawa pasti dimusuhi. Sekiranya saat itu aku masih muda, niscaya aku akan menolong mu dengan sekuat tenaga.” Tidak lama setelah itu, Waraqah meninggal dunia dan wahyu pun terhenti selama beberapa waktu. [Hadits ini juga tercantum didalam hadits no 3392, 4953, 4955, 4956, 4957 dan 6982]

SYARAH SANAD HADITS :
Perkataan al-Bukhari Rahimahullah:
حدّثنا يـحي بن بكير , قال . حدّثنا اللّيث . عن عقيل. عن ابن شهاب . عن عروة بن الزّبير . عن عائشة أمّ المؤمنين
Yahya bin Bukair menceritakan kepada kami, ia berkata : al-Laits menceritakan kepada kami, dari ‘Uqail, dari Ibnu Syihab, dari ‘Urwah bin az-Zubair, dari Aisyah Ummul Mukminin Radhiyallahu’anha.”
Yahya bin Bukair adalah Yahya bin Abdullah bin Bukair rahimahullah. Dia dinisbatkan kepada kakeknya yakni Bukair karena demikianlah orang banyak mengenalnya. Kunyahnya Abu Zakariya. Wafat tahun 231 H.
Al-Laits adalah Al-Laits bin Sa’ad bin Abdurrahman al-Fahmi rahimahullah. Beliau salah seorang ahli fiqih di Mesir. Kunyahnya Abu Al-Harits. Wafat pada tahun 175 H.
Uqail adalah ‘Uqail bin Khalid bin Uqail rahimahullah. Kunyah Abu Khalid. Wafat tahun 144 H.
Ibnu Syihab adalah Abu Bakar Muhammad bin Muslim bin ‘Ubadillah bin Abdullah bin Syihab bin Abdullah bin al-Harits bin Zuhrah bin Kilab al-Faqih rahimahullah. Beliau lebih dikenal dengan nama Az-Zuhri yakni dinisbatkan kepada buyutnya yang bernama Zuhrah bin Kilab. Wafat tahun 125 H.

Urwah bin az-Zubair adalah ‘Urwah bin az-Zubair bin Al-Awwam bin Khuwailid rahimahullah. Kunyahnya Abu Abdillah. Wafat pada tahun 94 H.
Aisyah Ummul Mukminin adalah Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu’anhuma. Kunyahnya Ummu Abdullah. Wafat pada tahun 58 H.

SYARAH MATAN HADITS :
Perkataan Aisyah Radhiyallahu’anha :
أنّها قالت: أوّل ما بدئ به رسول الله صلى الله عليه وسلم من الوحي الرّؤيا الصّالحة في النّوم , فكان لا يرى رؤيا إلاّ جاءت مثل فلق الصّبح
Bahwasanya ia berkata : “Peristiwa yang dialami oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam saat pertama kali menerima wahyu adalah mimpi yang baik diwaktu tidur. Biasanya, setiap kali Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam melihat mimpinya pastilah mimpi itu datang seperti cahaya fajar.”
Yakni Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam tidaklah bermimpi kecuali mimpi tersebut muncul seperti kejadian nyata, yang jelas dan cepat, seperti cahaya fajar. Inilah peristiwa yang mengawali wahyu sebagai pembuka sebelum menerima wahyu dalam kondisi terjaga.

Perkataan Aisyah Radhiyallahu’anha :
ثم حبّب إليه الخلاء , وكان يخلو بغار حراء ,
Kemudian beliau dibuat menjadi suka menyendiri. Beliau biasanya menyendiri ke Gua Hira’.” Yakni Allah Subhanahu wa ta’ala memasukkan kedalam hati Rasululllah Shallallahu’alaihi wa sallam kesenangan untuk menyendiri jauh dari orang banyak. Hal itu disebabkan beliau membenci perbuatan kesyirikan yang dilakukan oleh orang arab. Rahasia dibalik menyendiri ini adalah pengosongan hati dari pengaruh – pengaruh negatif yang bisa masuk ke dalam hati. Maka Rasulullah memilih sebuah tempat yang jauh dari orang banyak dan paling sulit untuk mereka daki yaitu Gua Hira.
الغار
Gua adalah lubang atau celah yang terdapat digunung.
حراء
Hira’ adalah nama sebuah gua di Mekkah yang sudah cukup dikenal.
Gua Hira’ adalah gua yang terdapat disebuah gunung yang berada disebelah kanan dalam ke Mekkah dari arah Timur. Lokasinya jauh dipuncak guung dan sukar dicapai. Namun Allah Subhanahu wa ta’ala mengokohkan Rasul-Nya sehingga sampai kesana, untuk mempersiapkan nya menerima wahyu dengan kekuatan jasmani dan mental (rohani). Sekiranya bukan karena Allah Subhanahu wa ta’ala yang meneguhkan hati beliau tentu beliau tidak akan sampai ke puncak gunung ini seorang diri lagi jauh dari kesepian.

Perkataan Aisyah Radhiyallahu’anha selanjutnya :
فيتحنّث فيه - وهو التّعبّد -
Beliau menyendiri dalam gua tersebut –yakni beribadah- ” (فيتحنّث) Menyendiri dalam hadits ini kata tersebut bermakna Yatahannaf (يتحنّف) yang artinya mengikuti agama hanif (agama yang lurus) yakni agama Nabi Ibrahim Alaihissalam.
Kalimat – وهو التّعبّد – ini adalah sisipan dari Imam az-Zuhri rahimahullah. Dimana beliau ingin menjelaskan makna dan tujuan At-Tahannuts (menyendiri) dengan kata At-Ta’abbud (beribadah).

Maka makna ucapan perkataan Aisyah diatas adalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam menyendiri di gua hira’ untuk beribadah dengan cara mengikuti agamanya Nabi Ibrahim Alaihissalam.

Perkataan Aisyah Radhiyallahu’anhu selanjutnya :
اللّيالي ذوات العدد قبل أن ينزع إلى أهله , ويتزوّد لذلك , ثمّ يرجع إلى خديجة فيتزوّد لمثلها, حتّى جاءه الحقّ وهو في غار حراء .
Selama beberapa hari sebelum beliau kembali menemui keluarganya. Dan beliau biasanya telah menyiapkan bekal untuk itu. Kemudian beliau kembali menemui Khadijah untuk menyiapkan bekal beribadah di Gua Hiraseperti biasanya. Hingga akhirnya datanglah kebenaran kepada beliau di Gua Hira’.”
الحقّ
Kebenaran maksudnya adalah wahyu.
Maksud nya Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam menyendiri di Gua Hira’ untuk beribadah beberapa hari, apabila bekal beliau sudah habis beliau kembali kerumah isterinya yakni Khadijah Ummul Mukminin Radhiyallahu’anha. Setelah itu beliau berangkat lagi menuju gua hira lagi. Sampai akhirnya datanglah wahyu kepada beliau, pada Bulan Ramadhan.

Perkataan Aisyah Radhiyallahu’anha selanjutnya :
فجاءه الملك
Lalu Malaikat datang menemui beliau.”
Yakni datang Malaikat menyampaikan wahyu kepada beliau dan menemui beliau. Malaikat yang dimaksud adalah malaikat Jibril Alaihissalam.

Perkataan Aisyah selanjutnya :
فقال : " اقرأ " , قال : " ما أنا بقارئ "
Malaikat itu berkata : “Bacalah.” Nabi menjawab : “Aku tidak bisa membaca.”
Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam disuruh membaca oleh Malaikat Jibril, namun Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam tidak bisa membaca. Huruf Mim pada kalimat Aku tidak bisa membaca, merupakan penafikan. Dan Huruf Ba pada Biqaari’, merupakan penegasan penafikan sehingga makna nya Aku tidak bisa membaca.
ما أنا بقارئ “
Aku tidak bisa membacamaksudnya aku bukanlah termasuk orang – orang yang bisa membaca. Dan ucapan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam ini memang jujur apa adanya. Karena beliau termasuk orang yang Ummi dan disifati dengan Nabi yang Ummi. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala :
الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ يَأْمُرُهُم بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ ۚ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنزِلَ مَعَهُ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” [Al-Qur’an Surat Al-A’raaf ayat 157]

Perkataan Aisyah selanjutnya :
قال : " فأخذني فغطّني حتّى بلغ منّي الجهد , ثمّ أرسلني , فقال : " اقرأ " , قلت : " ما أنا بقارئ " فأخذني فغطّني الثّانية حتّى بلغ منّي الجهد , ثمّ أرسلني , فقال: " اقرأ " , فقلت : " ما أنا بقارئ " فأخذني فغطّني الثّالثة , ثمّ أرسلني , فقال: " اقرأ باسم ربّك الّذي خلق . خلق الإنسان من علق . اقرأ وربّك الأكرم ".
Nabi meneruskan : “Malaikat itu mendekatiku lalu mendekapku hingga membuatku kepayahan, kemudian ia melepaskan dekapan nya dariku. Lalu berkata lagi : “Bacalah.” “Aku tidak bisa membaca.” Jawab ku. Malaikau itu mendekatiku lagi dan mendekapku untuk kedua kalinya hingga membuatku kepayahan. Kemudian ia melepaskan dekapan nya dariku. Lalu berkata lagi : “Bacalah” “Aku tidak bisa membaca” Jawab ku. Malaikat itu mendekatiku lagi dan mendekapku untuk ketiga kalinya hingga membuatku kepayahan. Kemudian ia melepaskan dekapan nya dariku. Lalu Malaikat itu berkata : “Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang Maha Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah.” [Al-Qur’an Surat Al-Alaq ayat 1 – 3]”
Inilah wahyu yang pertama kali diturunkan kepada Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam.

Perkataan Aisyah selanjutnya Selanjutnya :
فرجع بها رسول الله صلى الله عليه وسلم يرجف فؤاده , فدخل على خديجة بنت خويلد رضي الله عنها , فقال: " زمّلوني زمّلوني ". فزمّلوه حتّى ذهب عنه الرّوع , فقال لخديجة وأخبرها الخبر : " لقد خشيت على نفسي ".
Kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam kembali dengan nya sementara hatinya dalam keadaan takut. Ia langsung menemui Khadijah bintu Khuwailid Radhiyallahu’anha dan berkata : “Selimutilah aku, selimutilah aku.” Maka mereka pun menyelimutinya hingga hilanglah rasa takut beliau. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam menceritakan peristiwa yang baru saja dialaminya. Beliau berkata “Aku khawatir terhadap diriku.”

فقالت خديجة : " كلاّ والله ما يخزيك الله أبدا , إنّك لتصل الرّحم , وتحمل الكلّ , وتكسب المعدوم , وتقري الضّيف , وتعين على نوائب الحقّ .
Khadijah Radhiyallahu’anha berkata : “Sekalikali tidak. Demi Allah, Allah tidak akan menghinakan mu selamalamanya. Bukankah engkau selalu menyambung tali silaturrahim, suka membantu orang yang butuh pertolongan, suka member orang fakir, memuliakan tamu dan suka menolong dalam hal kebenaran.”

فانطلقت به خديجة حتّى أتت به ورقة بن نوفل بن أسد بن عبد العزّى , ابن عمّ خديجة , وكان امرءا تنصّر في الجاهليّة , وكان يكتب الكتاب العبرانيّ , فيكتب من الإنجيل بالعبرانيّة ما شاء الله أن يكتب , وكان شيخا كبيرا قد عمي
Khadijah Radhiyallahu’anha pun pergi membawa beliau menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin ‘Abdil ‘Uzza. Ia adalah sepupu Khadijah Radhiyallahu’anha, seorang penganut agama Nasrani pada masa Jahiliyyah. Ia adalah orang yang pandai menulis kitab dalam bahasa Ibrani dan menulis Injil dalam bahasa Ibrani sesuai dengan kehendak Allah. Selain itu, ia adalah seorang yang sudah berlanjut dan telah hilang penglihatan nya.

, فقالت له خديجة : " يا بن عمّ , اسمع من ابن أخيك "
Khadijah berkata kepadanya : “Wahai anak paman ku, dengarkanlah peristiwa yang dialami oleh anak saudaramu ini.”
Khadijah Ummul Mukminin Radhiyallahu’anha menyebut Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam dihadapan Waqarah dengan “Anak saudara mu ini.” Karena antara ayah Rasulullah yakni Abdullah bin Abdul Muththalib dan Waraqah memiliki sejumlah perantara yang sama untuk sampai kepada nasab Qushai bin Kilab. Maka dari sisi ini Waraqah termasuk setara dengan Abdullah.

Perkataan selanjutnya :
. فقال له ورقة : " يا بن أخي ماذا ترى !" فأخبره رسول الله صلى الله عليه وسلم خبر ما رأى . فقاله له ورقة : " هذا النّاموس , الّذي نزّل الله على موسى , يا ليتني فيها جذعا , ليتني أكون حيّا إذ يخرجك قومك ". فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : " أومخرجيّ هم ؟". قال : " نعم، لم يأت رجل قطّّّ بمثل ما جئت به إلاّ عودي , وإن يدركني يومك أنصرك نصرا مؤزّرا " . ثمّ لم ينشب ورقة أن توفّي , وفتر الوحي .
Waraqah berkata kepada nya : “Wahai anak saudara ku, apa yang engkau alami?” Lalu Rasululah Shallallahu’alaihi wa sallam menceritakan peristiwa yang beliau alami. Setelah mendengar cerita beliau. Waraqah berkata : “Ini adalah Namus yang dahulu diturunkan Allah kepada Musa. Duhai sekiranya dikala itu aku masih muda. Sekiranya aku masih hidup tatkala kaum mu mengusirmu” Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bertanya : “Apakah mereka akan mengusirku?” Naufal menjawab : “Benar, setiap orang yang datang membawa ajaran seperti yang engkau bawa pasti dimusuhi. Sekiranya saat itu aku masih muda, niscaya aku akan menolong mu dengan sekuat tenaga.” Tidak lama setelah itu, Waraqah meninggal dunia dan wahyu pun terhenti selama beberapa waktu. [Hadits ini juga tercantum didalam hadits no 3392, 4953, 4955, 4956, 4957 dan 6982]

Perkataan Waqarah : “Ini adalah Namus yang dahulu diturunkan Allah kepada Musa.” An-Namus artinya orang kepercayaan yang memegang dan menyampaikan rahasia yang dipercaya. An-Namus yang dimaksud adalah Malaikat Jibril Alaihissalam.

Perkataan : “Wahyu terhenti selama beberapa waktu” Tujuan atau Hikmah dibalik terputusnya wahyu adalah untuk menghilangkan rasa takut dan kekhawatiran yang menghinggapi Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam, sampai beliau siap kembali menghadapinya.

PELAJARAN DARI HADITS :
1.
Hadits ini merupakan dalil bahwa mimpi yang benar dan baik merupakan satu diantara sekian jenis wahyu. Sebagaimana yang disebutkan didalam hadits Shahih dari Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bahwa mimpi yang benar adalah satu dari 46 (empat puluh enam) bagian kenabian. [Lihat hadits nya di Shahih al-Bukhari no 6983]
2.
Hadits ini merupakan dalil bahwa agama yang dianut oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam sebelum datangnya wahyu kepada beliau adalah mengikuti agama Nabi Ibrahim Alaihissalam dan Nabi Ismail Alaihissalam.
3.
Hadits ini juga menunjukkan dianjurkan (disukai) untuk menghibur orang yang sedang menghadapi permasalahan dengan cara menyebut sesuatu yang dapat meringankan beban permasalahan nya tersebut.
4.
Hadits ini juga menunjukkan dianjurkan bagi siapa pun yang tengah menghadapi suatu permasalahan agar mencari orang yang dipercaya untuk menasehati dan memberikan masukan baginya.
5.
Hadits ini juga memberikan pelajaran hendaklah seorang isteri selalu berusaha untuk menentramkan hati suami nya. Bukan menambah masalah yang baru lagi bagi suaminya, atau sebaliknya.
6.
Hadits ini menunjukkan akan keutamaan al-Qur’an. Karena dihadits ini disebutkan bahwa Waraqah dapat menulis kitab injil, bukan menghafal injil. Karena menghafal kitab taurat dan injil bukanlah perkara mudah, berbeda dengan al-Qur’an yang mana Allah memudahkan manusia untuk menghafalnya. Ini merupakan keistimewaan bagi umat ini.
7.
Hadits ini juga mengandung pelajaran bahwasanya siapa pun yang mempunyai keperluan dengan seseorang, maka hendaklah ia meminta bantuan kepada mereka yang memiliki kedekatan hubungan dengan orang tersebut. Sebagaimana yang dilakukan Khadijah yang membawa Rasulullah kepada Waraqah.
8.
Hadits ini juga mengandung pelajaran bahwa hendaklah seseorang yang ingin bertanya, memperkenalkan dirinya terlebih dahulu.
9.
Hadits ini juga menjadi dalil bahwa bolehnya mengangan – angankan sesuatu yang mustahil, asalkan dalam perkara kebaikan. Sebagaimana Waraqah yang sudah lanjut usia berangan – angan untuk menjadi muda kembali.
10.
Hadits ini juga mengandung isyarat bolehnya berfirasat kepada sesuatu, berdasarkan landasan ilmu dan pengalaman yang cukup.
11.
Hadits ini juga mengandung pelajaran, apabila suatu kabar yang besar hendak disampaikan, maka hendaklah si pemberi kabar melihat kesiapan dan kondisi orang yang menerima kabar tersebut. Jika kondisi tidak memungkinkan untuk menerima kabar itu, dan kabar itu tidak bersifat darurat, ada baik nya untuk menunda sampai dia siap menerima kabar tersebut. Adapun kabar yang bersifat darurat, maka tidak perlu melihat itu semua.
12.
Hadits ini juga mengandung isyarat bahwa wahyu yang turun kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam akan dijaga dan terjaga, diantara sarana penjagaan nya adalah ilmu dengan kalam dan ilmu dengan tulisan.
13.
Hadits ini juga mengandung isyarat bahwa orang yang berbuat baik lagi bertakwa, maka Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan menghinakan nya selama – lama nya.
14.
Hadits ini juga menjadi dalil bahwa ayat yang pertama kali turun adalah Surat Al-Alaq ayat 1 – 3.
15.
Hadits ini juga menjadi dalil tentang diangkatnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam sebagai Nabi. Sedangkan hadits -no 4- selanjutnya menjadi dalil tentang diangkatnya Rasulullah sebagai Rasul.
16.
Hadits ini menjadi dalil bahwa Waraqah bin Naufal rahimahullah adalah orang yang pertama kali yang beriman kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam dari kalangan laki – laki dewasa, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam adalah seorang Nabi. Adapun orang yang pertama kali yang beriman kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam dari kalangan laki – laki dewasa, bahwa Rasulullah adalah seorang Rasul setelah kejadian ini adalah Abu Bakar as-Shiddiq Radhiyallahu’anhu.

-
wallahu a’lam-
Semoga bermanfaat.
Apa yang benar datang nya dari Allah Subhanahu wa ta’ala, dan apa yang salah datang dari pribadi kami sendiri dan dari syaitan. Kepada Allah-lah kami memohon ampunan.

Abu Abdillah Prima Ibnu Firdaus ar-Roni al-Mirluny
Kota Jambi, Rabu Malam : 22 Dzulhijjah 1433 H / 7 November 2012 M

Tidak ada komentar:

Posting Komentar