Rabu, 24 Juli 2013

Bagaimana al-Qur'an Diturunkan dan Kapan?

Semoga catatan saya satu tahun yang lalu ini bermanfaat lagi.

TAFSIR AL-FIRDAUS
[Tafsir Al-Qur'an Ringkas, Mudah dan Padat Makna]

DEFINISI AL-QUR'AN
a. Menurut Bahasa
Sebelum menjelaskan definisi al-Qur'an, maka ada baiknya mengetahui definisi Qara'a dan Qira'ah. Qara'a memiliki arti mengumpulkan dan menghimpun. Sedangkan Qira'ah berarti merangkai huruf - huruf dan kata - kata antara satu dengan lain nya dalam satu ungkapan kata yang teratur.

Al-Qur'an asalnya sama dengan Qira'ah yaitu akar kata (masdar-infinitif) dari Qara'a, Qira'atan, wa Qur'anan.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :
إنّ علينا جمعه وقرآنه . فإذاقرأنه فاتّبع قرءانه
"Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami selesai membacanya maka ikutilah bacaan nya itu." [Al-Qur'an surat 75 : Al-Qiyamah : 17-18]

Qur'anah disini berarti Qira'ah (bacaan atau cara membacanya).

b. Menurut Istilah
Al-Qur'an menurut istilah adalah Kalam (Perkataan) Allah Subhanahu wa ta'ala yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam melalui perantara malaikat Jibril Alaihissalam, yang ditulis dalam mushaf dan disampaikan kepada kita dengan cara mutawatir, membacanya merupakan ibadah dan menentang kepada manusia agar membuat surat terpendek semisalnya.

Penjelasan definisi
"Kalam (Perkataan) Allah Subhanahu wa ta'ala" maka Al-Qur'an bukanlah makhluk dan juga perkataan manusia.

"Yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam" maka ini menunjukkan bahwa kitab - kitab yang Allah turunkan kepada Nabi sebelum Nabi Muhammad tidaklah dinamakan dengan Al-Qur'an.

"Melalui perantara malaikat Jibril Alaihissalam," ini menunjukkan Al-Qur'an terjaga dari campur tangan Iblis.

"Yang ditulis dalam mushaf" ini menunjukkan pengumpulan Al-Qur'an dalam satu kitab tidaklah termasuk perkara baru didalam agama.

"Dan disampaikan kepada kita dengan cara mutawatir" ini menunjukkan bahwa bacaan yang ganjil tidak termasuk.

"Membacanya merupakan ibadah" ini menunjukkan bahwa hadits Qudsi dan hadits Nabawi tidak termasuk.

"dan menentang kepada manusia agar membuat surat terpendek semisalnya" ini menunjukkan keagungan dan kebenaran Al-Qur'an, bahwa dia benar - benar diturunkan dari Rabb Semesta Alam, Allah Subhanahu wa Ta'ala.

---oOo---

NAMA - NAMA LAIN AL-QURAN DAN SIFAT AL-QUR'AN
Al-Qur'an mempunyai banyak nama dan sifat, ini memberikan pelajaran tentang keagungan Al-Qur'an. Allah Subhanahu wa ta'ala telah menyebutkan nama - nama lain dari Al-Qur'an dan sifat - sifat Al-Qur'an.

Diantara nama lain dari Al-Qur'an :
1. Al-Kitab
Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman :
لقدا أنزلنآ إليكم كنبافيه ذكركم
"Telah Kami turunkan kepadamu Al-Kitab yang didalamnya terdapat kemuliaan bagimu." [Al-Qur'an Surat Al-Anbiyaa' ayat 10]

2. Al-Furqan
Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman :
تبارك الّذى نزّل الفرقان على عبده ليكون للعلمين نذيرا
"Mahasuci Allah Yang telah menurunkan Al-Furqan kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada penduduk alam." [Al-Qur'an Surat Al-Furqan ayat 1]

3. Adz-Dzikr
Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman :
إنّانحن نزلنا الذّكر وإنّاله لحفظون
"Sesungguhnya Kamilah yang telah menurunkan Adz-Dzikr dan sesungguhnya Kamilah yang akan menjaganya." [Al-Qur'an Surat Al-Hijr ayat 9]

4. At-Tanzil
Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman :
وإنّه لتنزيل ربّ العلمين
"Dan dia itu adalah Tanzil (kitab yang diturunkan) dari Rabb semesta Alam." [Al-Qur'an Surat Asy-Syu'ara ayat 192]

Diantara sifat Al-Qur'an yang dijelaskan Allah Subhanahu wa ta'ala adalah :
1. An-Nur (cahaya)
Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman :
يأيّها النّاس قدجاءكم برهن مّن رّبّكم وأنزلنآ إليكم نورا مّبينا
"Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Rabbmu. Dan telah Kami turunkan kepadamu (Al-Qur'an sebagai) cahaya yang terang menerangi." [Al-Qur'an Surat An-Nisa ayat 74]

2. Al-Mau'izah (Nasehat), Asy-Syifa' (Obat), Al-Huda (Petunjuk) dan Ar-Rahmah (Rahmat)
Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman :
يأيّها النّاس قدجاءتكم مّوعظة مّن رّبّكم وشفآء لّما في الصّدور وهدى ورحمة لّلمؤمنين
"Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman." [Al-Qur'an Surat Yunus 57]

3. Al-Mubin (Yang menjelaskan)
Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman :
يأهل الكتب قدجآءكم رسولنا يبيّن لكم كثرا مّمّا كنتم تخفون من الكتب ويعفوا عن كثر , قد جآءكم مّن الله نور وكتب مّبين
"Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyi kan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan. [Al-Qur'an Surat Al-Maa'idah ayat 15]

4. Al-Mubarak (Yang Diberkahi)
وهذا كتب أنزلنه مبارك مّصدّق الّذي بين يديه ولتنذر أمّ القرى ومن حولها , والّذين يؤمنون بالأخيرة يؤمنون به , وهم على صلاتهم يحافظون
"Dan ini (Al Quran) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Quran) dan mereka selalu memelihara sembahyangnya." [Al-Qur'an Surat Al-An'am ayat 92]

5. Al-Basyir (Pembawa Berita Gembira)
Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman :
قل من كان عدوّا لّجبريل فإنّه نزّله على قلبك بإذن الله مصدّقا لّما بين يديه وهدى وبشرى للمؤمنين
Katakanlah: "Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman." [Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 97]

6. Al-Majid (Yang Mulia)
Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman :
ق . والقرءان المجيد
"Qaaf. Demi Al Quran yang sangat mulia." [Al-Qur'an Surat Qaaf ayat 1]

بل هو فرءان مّجيد
"Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia" [Al-Qur'an Surat Al-Buruj ayat 21]

7. An-Nadzir (Pemberi peringatan)
Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman :
كتب فصّلت ءايته قرءنا عربيا لّفوم يعلمون . بشرا ونذيرا فأعرض أكثرهم فهم لا يسمعون
"Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling, tidak mau mendengarkan. [Al-Qur'an Surat Fushshilat ayat 3-4]

-bersambung ke pembahasan yang lain-

Abu Abdillah Prima Ibnu Firdaus Ar-Roni Al-Mirluny
Desa Merlung, Hari Idhul Fitri : Ahad (minggu) 1 Syawal 1433 H / 19 Agustus 2012 M

---oOo---

TAFSIR AL-FIRDAUS
[Tafsir Al-Qur'an Ringkas, Mudah dan Padat Makna]

MUQADDIMAH bagian 2

---oOo---

SEJARAH PENURUNAN AL-QUR’AN

1. Siapa yang menurunkan Al-Qur’an? Siapa yang membawa Al-Qur’an turun? Dan kepada siapa Al-Qur’an Diturunkan?
Yang menurunkan Al-Qur’an adalah Rabb Semesta Alam yakni Allah Subhanahu wa ta’ala. Sedangkan yang membawa Al-Qur’an turun adalah Ar-Ruh Al-Amin yakni Malaikat Jibril Alaihissalam setelah menerimanya secara mendengar dari Allah Subhanahu wa ta’ala dengan lafazh yang khusus. Dan yang menerima Al-Qur’an adalah Rasulullah yakni Muhammad bin Abdullah Shallallahu’alaihi wa sallam dengan bahasa Arab yang jelas.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman menjelaskan masalah ini, Firman-Nya:
وأنّه لتنـزيل ربّ العلمين . نزل به الرّوح الأمين . على قلبك لتكون من المنذرين , بلسان عربىّ مّبين
“Dan sesungguhnya Al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb Semesta Alam, dia (Al-Qur’an) dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril),ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang ember peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.” [Al-Qur’an surat asy-Syu’ara ayat 192-195]

---oOo---

2. Menurunkan Al-Qur’an salah satu cara Allah Subhanahu wa ta’ala menyampaikan Agama-Nya.
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman :
وما كان لبشر أن يكلّمه الله إلاّ وحيا أو من ورآى حجاب أو يرسل رسولا فيوحى بإذنه مايشاء , إنّه علىّ حكيم
“Dan tidaklah patut bagi seorang manusia bahwa Allah akan berbicara kepadanya kecuali dengan perantara wahyu atau dari belakang tabir (hijab) atau dengan mengutus utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.” [Al-Qur’an surat asy-Syuuraa ayat 51]

Dalam ayat diatas, Allah Subhanahu wa ta’ala menerangkan bahwa Dia berbicara untuk menyampaikan syariat agama-Nya kepada manusia dengan tiga cara (perantara) yaitu :
• Dengan cara Wahyu.
• Berbicara langsung dari balik tabir (hijab).
• Mengirim seorang utusan (malaikat) lalu ia mewahyukan apa yang dikehendaki-Nya dengan izin-Nya.

---oOo---

3. Dimana Al-Qur’an itu berada sebelum diturunkan?
Al-Qur’an sebelum diturunkan berada di kitab Lauh Al-Mahfuzh, sebagaimana yang diberitakan Allah Subhanahu wa ta'ala dibeberapa ayat didalam Al-Qur’an, seperti di firman-Nya :
بل هو قرءان مّجيد . فى لوح مّحفوظ
"Bahkan yang didustakan mereka itu adalah al-Quran yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Al-Mahfuzh." [Al-Qur’an surat Al-Buruj ayat 21-22]

Adapun cara dan bagaimana adanya, awal mulanya Al-Qur’an di Lauh al-Mahfuzh, itu hanyalah Allah Subhanahu wa ta'ala yang mengetahuinya. Kita tidak berhak menanyakan tentang caranya dan awal keberadaan nya. Karena tidak akan mungkin mampu dicapai oleh akal kita. Kita hanyalah wajib mempercayai, mengimani dan membenarkan nya, dimana hal ini termasuk kepada iman terhadap perkara yang ghaib, yang tidak dipercayai kecuali oleh orang-orang yang bertakwa.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman :
الم . ذ لك الكتب لا ريب فيه هدى لّلمتقين , الّذين يؤ منون بالغب
"Alif Lam Mim. Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib..." [Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 1-3]

---oOo---

4. Tahap – tahapan penurunan Al-Qur’an
Orang yang menelaah ayat - ayat Al-Qur’an akan menyimpulkan bahwa penurunan Al-Qur’an itu terbagi kepada dua tahap (dua fase) yakni Penurunan Al-Qur’an secara keseluruhan dan Penurunan Al-Qur’an secara bertahap, berikut penjelasan nya.

Pertama : Penurunan Al-Qur’an secara keseluruhan yakni penurunan Al-Qur’an sekaligus dari Lauh Al-Mahfuzh ke Bait Al-Izzah di langit dunia. Penurunan ini terjadi pada malam Lailatul Qadar di bulan Ramadhan.
Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman :
بل هو قرءان مّجيد . فى لوح مّحفوظ
"Bahkan yang didustakan mereka itu adalah Al-Qur’an yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Al-Mahfuzh." [Al-Qur’an Surat Al-Buruj ayat 21-22]

Kedua ayat ini (21 dan 22) menunjukkan bahwa Al-Qur’an itu berada di Lauh Al-Mahfuzh.

Tentang terjadinya penurunan dibulan ramadhan dan pada -malam Lailatul Qadar-.
Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman :
شهر رمضان الّذى أنزل فيه القرءان هدى للنّاس وبينت مّن الهدى والفرقان
"Bulan Ramadhan yang diturunkan didalam nya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang bathil)." [Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 185]

Juga firman Nya :
إنّا أنزلنه في ليلة القدر
"Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Al-Qur’an) pada malam Qadar (kemuliaan)." [Al-Qur’an Surat Al-Qadar ayat 1]

Juga firman Nya :
إنّا أنزلنه في ليلة مّبركة
"Sesungguhnya Kami menurunkan nya (Al-Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi (malam qadar)." [Al-Qur’an Surat Ad-Dukhan ayat 3]

Ketiga ayat ini (Al-Baqarah ayat 185, Al-Qadar ayat 1 dan Ad-Dakhan ayat 3) secara keseluruhan menunjukkan bahwa Al-Qur’an diturunkan secara sekaligus dibulan Ramadhan, tepatnya pada malam Lailatul Qadar sebagai malam yang diberkahi. Pendapat ini adalah pendapat yang paling benar dan paling terkenal, dia adalah pendapat yang kuat.

Berikut atsar - atsar dari Ibnu Abbas yang menjelaskan hal ini.
a. Ibnu Abbas Radhiyallahu'anhu berkata : "Al-Qur’an diturunkan pada malam Lailatul Qadar secara sekaligus (semuanya) ke langit dunia, tempat turun nya bagian-bagian Al-Qur’an. Kemudian Allah menurunkan nya (dari langit dunia itu) kepada Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam sebagian demi sebagian." [Diriwayatkan oleh Imam al-Hakim dan Al-Baihaqi dan yang lain nya]

b. Ibnu Abbas Radhiyallahu'anhu berkata : "Al-Qur’an diterangkan sebagai dzikir, lalu diletakkan pada Bait Al-Izza di langit dunia. Kemudian Jibril Alaihissalam menurunkan nya kepada Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam (bagian demi bagian)." [Diriwayatkan oleh Imam al-Hakim dan Imam Ibnu Abi Syaibah]

c. Ibnu Abbas Radhiyallahu'anhu berkata : "Al-Qur’an diturunkan pada malam lailatul qadar dibulan ramadhan ke langit dunia secara sekaligus. Kemudian (setelah itu) diturunkan secara berangsur-angsur (kepada Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam)." [Diriwayatkan oleh Imam Thabrani]

d. Ibnu Abbas Radhiyallahu'anhu berkata : "Al-Qur’an diturunkan secara sekaligus sampai diletakkan pada Bait al-Izzah dilangit dunia. Kemudian Jibril Alaihissalam menurunkan nya kepada Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam sebagai jawaban (pedoman/petunjuk) pertanyaan manusia dan perbuatan nya." [Diriwayatkan oleh Imam Thabrani]

e. Ibnu Abbas Radhiyallahu'anhu berkata : "Allah menurunkan Al-Qur’an dalam satu malam -yakni pada Lailatul Qadar- ke langit dunia, kemudian setelah itu diturunkan dalam waktu (kurang lebih 23 tahun).
Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman :
وقال الّذين كفروالولا نزّل عليه القرءان جملة وحدة كذلك لنثـبّت به فؤادك ورتّلنه ترتيلا
"Berkatalah orang-orang yang kafir: "Mengapa Al Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?" demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil. [Al-Qur’an Surat Al-Furqan ayat 32]

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman :
وقرءانا فرقنه لتقرأه , على النّاس على مكث ونزّ لنه تنزيلا
"Dan Al-Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membaca nya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkan nya bagian demi bagian." [Al-Qur’an Surat Al-Isra ayat 106]

Semua riwayat Ibnu Abbas diatas adalah SHAHIH, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam As-Suyuthi rahimahullah, namun mauquf (hanya disandarkan kepada Ibnu Abbas). Walaupun demikian, kesemuanya memiliki derajat yang marfu (sampai kepada Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam) dan boleh dijadikan hujjah.

Kedua : Penurunan Al-Qur’an secara berangsur - angsur kepada Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam dalam jangka waktu kurang lebih 23 tahun, selama diutusnya Beliau Shallallahu'alaihi wa sallam.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman :
وقال الّذين كفروالولا نزّل عليه القرءان جملة وحدة كذلك لنثـبّت به فؤادك ورتّلنه ترتيلا
"Berkatalah orang-orang yang kafir: "Mengapa Al Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?" demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil. [Al-Qur’an Surat Al-Furqan ayat 32]

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman :
وقرءانا فرقنه لتقرأه , على النّاس على مكث ونزّ لنه تنزيلا
"Dan Al-Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membaca nya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkan nya bagian demi bagian." [al-Qur’an Surat Al-Isra ayat 106]

Kedua ayat tersebut menunjukkan secara jelas, bahwa Al-Qur’an tidak diturunkan kepada Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam secara sekaligus, akan tetapi diturunkan kepada beliau secara berangsur-angsur sesuai dengan peristiwa dan kejadian yang terjadi.

---oOo---

5. Cara penurunan Al-Qur’an dari Bait Al-Izzah kepada Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam.
Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam dengan dua cara, yakni secara Ibtida'i dan Sababi.

Pertama : Turun Secara Ibtida'i yaitu ayat Al-Qur’an yang turun tanpa didahului oleh suatu sebab yang melatarbelakanginya. Dan mayoritas ayat - ayat Al-Qur’an turun secara ibtida'i ini.

Diantara ayat yang turun secara ibtida’i ini. Firman Allah Subhanahu wa ta'ala :
ومنهم مّن عهد الله لئن ءاتنا من فضله لنصدّقنّ ولنكو ننّ من الصّليحين
"Dan diantara mereka ada yang menjanjikan kepada Allah “ Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, sungguh kami akan bershadaqah dan sungguh kami akan menjadi orang-orang yang termasuk dalam orang-orang yang shaleh." [al-Quran Surat At-Taubah ayat 75]

Sesungguhnya ayat ini mula-mula turun untuk menjelaskan keadaan sebagian orang-orang munafik. Adapun mengenai berita yang masyhur (terkenal) bahwa ayat ini (Al-Qur’an surat Al-Furqan ayat 75) turun berkenaan dengan Tsa'labah bin Hathib dalam suatu kisah yang panjang merupakan riwayat yang LEMAH, yang tidak dapat dibenarkan.

Kedua : Turun Secara Sababi yaitu ayat Al-Qur’an yang turun dengan didahului oleh suatu sebab yang melatarbelakanginya. Sebab-sebab itu bisa berupa pertanyaan yang diajukan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam, bisa berupa suatu kejadian atau peristiwa yang membutuhkan penjelasan dan peringatan, atau suatu permasalahan yang membutuhkan penjelasan hukum.

a.Sebab berupa pertanyaan.
Contoh Firman Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman :
يسئلونك عن الأهلّة . قل هى موقيت للنّاس والحجّ
"Mereka bertanya kepada mu (Muhammad) tentang bulan Sabit. Katakanlah : "Bulan sabit itu adalah tanda - tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji." [Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 189]

b.Sebab berupa kejadian sebuah peristiwa yang membutuhkan penjelasan dan peringatan.
Contoh firman Allah Subhanahu wa ta'ala :
ولئن سأتـهم ليقولنّ إنّما كنّانخوض ونعلب . قل أبا الله وءايته ورسوله كنتم تستهزءون
"Dan jika kamu bertanya kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab : "Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja." Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?" [Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 65]

Ayat ini turun berkenaan seseorang laki-laki munafik yang berkata dalam suatu majelis pada waktu perang tabuk : "Kami tidak melihat orang semisal para pembaca Al-Qur’an kita ini, mereka paling besar perutnya, paling dusta lisan nya, dan paling penakut ketika bertemu dengan musuh"
Yang dia maksud didalam ucapan nya adalah Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam dan para Sahabat beliau. Kemudian ucapan nya sampai kepada Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam, kemudian turun ayat Al-Qur’an ini. Kemudian laki-laki tersebut datang kepada Rasulullah untuk meminta maaf kepada beliau, maka beliau menjawab dengan membaca firman Allah lanjutan ayat tadi :
"Apakah dengan Allah, dan ayat-ayat Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?" Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” [Al-Qur’an Surat At-Taubat ayat 65-66]

c. Suatu permasalahan yang membutuhkan penjelasan hukum.
Contoh nya firman Allah Subhanahu wa ta'ala :
قد سمع الله قوالّتى تجدلك في زوجها وتشتكى إلى الله , والله يسمع تحاوركما , إنّ الله سميع بصير
"Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan hal nya kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat" [Al-Qur’an Surat al-Mujadilah ayat 1]

---oOo---

6. Bentuk wahyu yang turun kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam
عن عائشة أمّ الـمؤمنين رضي الله عنها : أنّ الحارث بن هشام رضي الله عنه سأل رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال : يا رسول الله , كيف يأتيك الوحي؟ : فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : " أحيانا يأتينـي مثل صلصلة الجرس , وهو أشدّه علىّ , فيفصم عنّـي , وقد وعيت عنه ما قال , وأحيانا يتمثّل لي الـملك رجلا فيكلّمنـي , فأعي ما يقول " قالت عائسة ضي الله عنها : ولقد رأيته ينزل عليه الوحي في اليوم الشّديد البرد فيفصم عنه وإنّ جبينه ليتفصّد عرقا . [صحيح البخاري : الحديث 2 . انظر الحديث 3215]
Dari Aisyah Ummul Mukminin Radhiyallahu’anha bahwa al-Harits bin Hisyam Radhiyallahu’anhu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam : “Wahai Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam, bagaimana cara wahyu turun kepadamu?” Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda menjawab : “Wahyu datang kepadaku terkadang seperti suara gemerincing (dentingan) lonceng dan cara ini yang paling berat buat ku. Lalu terhenti sehingga aku memahami apa yang disampaikan. Terkadang berupa malaikat yang datang menyerupai seorang laki – laki lalu berbicara kepada ku yang kemudian aku memahami apa yang diucapkan nya.” Aisyah Radhiyallahu’anha : “Sungguh, pada suatu hari yang sangat dingin aku pernah melihat wahyu diturunka kepada beliau, lalu terhenti. Saat itu aku melihat dahi beliau bercucuran keringat.” [Shahih al-Bukhari : Hadits no 2. Lihat juga hadits no 3215]

---oOo---

7. Ayat yang pertama kali turun kepada Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam.
عن عائشة رضي الله عنها أنـّها قالت : " أوّل ما بدئ به رسول الله صلى الله عليه وسلم من الوحي الرّؤيا الصّادقة في النّوم , فكان لا يرى رؤيا إلّا جاءت مثل فلق الصّبح , فكان يأتي حراء فيتحنّث فيه – وهو التّعبّد – الّليالي ذوات العدد , ويتزوّد لذ لك ثـمّ يرجع إلى خديـجة فتزوّده لـمثلها حتّـى فجئه الـحقّ وهو في غار حراء , فجاءه الـملك فيه فقال : اقرأ . فقال له النّبـيّ صلى الله عليه وسلم : ما أنابقارئ . فأخذني فغطّنـي حتّـى بلغ منّـي الـجهد , ثـمّ أرسلنـي فقال : اقرأ . فقلت : ما أنابقارئ . فأخذني فغطّنـي الثّانية حتّـى بلغ منّـي الـجهد , ثـمّ أرسلنـي فقال : اقرأ . فقلت : ما أنابقارئ . فأخذني فغطّنـي الثّالثة حتّـى بلغ منّـي الـجهد . ثـمّ أرسلنـي فقال : " اقرأ باسم ربّك الّذي خلق . حتـى بلغ . مالـم يعلم (العلق : 1-5) " فرجع بـها ترجف بوادره حتّـى دخل على خديـجة فقال : زمّلوني , زمّلوني . فزمّلوه حتّـى ذهب عنه الرّوع فقال : يا خديـجة , مالي ؟ وأخبرها الـخبر وقال : قد خشيت علىّ . فقالت له : كلّا أبشر , فو الله لا يـخزيك الله أبدا , إنّك لتصل الرّحم , وتصدق الـحديث , وتـحمل الكلّ , وتقري الضّيف , وتعين على نوائب الـحقّ . ثـمّ انطلقت به خديـجة حتّـى أتت به ورقة بن نوفل بن أسد بن عبد العزّى بن قصيّ - وهو أبن عمّ خديـجة أخو أبيها- وكان امرءا تنصّر قي الـجاهليّة وكان يكتب الكتاب العربـيّ , فيكتب بالعربيّة من الإنـجيل ما شاء الله أنّ يكتب , وكان شيخا كبرا قد عمي – فقالت له خديـجة : أي ابن عمّ , و اسـمع من ابن أخيك . فقال ورقة : ابن أخي , ماذا ترى؟ فأخبره النّبـيّ صلى الله عليه وسلم مارأى . فقال ورقة : هذا النّاموس , الّذي أنزل على موسـى , يا ليتنـي فيها جذعا أكون حيّا حين يـخر جك قومك . فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : أومـخرجيّ هم؟ فقال ورقة : نعم , لـم يأت رجل قطّ بـما جئت به إلّا عودي , وأنّ يدركنـي يومك أنصرك نصرا مؤزّرا . ثـمّ لـم ينشب ورقة أن توفّـي , وفتر الوحـي فترة حتـّى حزن الـنّبـيّ صلى الله عليه وسلم فيما بلغنا حزنا غدا منه مرار كي يتردّى من رؤس شواهق الـجبال , فكلّما أوفـى بذروة جبل لكي يلقي منه نفسه تبدّى له جبريل فقال : يا مـحمّد , إنّك رسول الله حقا . فيسكن لذلك جأشه وتقرّ نفسه فيرجع , فإذا طالت عليه فترة الوحي , غدا لـمثل ذلك , فإذا أوفـى بذروة جبل تبدّى له جبريل فقال له مثل ذلك " [صحيح البخاري: الحديث 6982 . انظر الحديث 3, 4953, 4955, 4956, 4957]
Dari Aisyah Radhiyallahu’anha, ia berkata : “Permulaan wahyu yang datang kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam adalah lewat mimpi yang benar dalam tidur. Mimpi beliau itu datang (sangat jelas) seperti cahaya subuh. Saat itu, beliau sering menyendiri di Gua Hira untuk tahannuts –yaitu beribadah- selama beberapa malam, lalu pulang ke rumah Khadijah untuk mengambil bekal, kemudian kembali tahannuts. Sampai akhirnya, datanglah wahyu ketika beliau di Gua Hira. Malaikat (Jibril) datang seraya berkata : “Bacalah” Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam menjawab : “Aku tidak bisa membaca.” Nabi menjelaskan bahwa saat itu Jibril memegang dan memeluk beliau dengan kuat sampai beliau merasa sesak. Lalu Jibril melepaskan beliau dan berkata lagi : “Bacalah” Beliau menjawab : “Aku tidak bisa membaca.” Jibril kembali memeluk beliau sangat kuat untuk kali kedua hingga beliau merasa sesak. Kemudian dia kembali melepaskan beliau dan berkata lagi : “Bacalah” Beliau menjawab : “Aku tidak bisa membaca” Jibril kembali memeluk beliau dengan sangat kuat untuk ketiga kalinya hingga beliau merasa sesak. Lalu dia melepaskan beliau dan berkata : “Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang menciptakan…” hingga ayat “Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” [Al-Qur’an surat al-A’laq ayat 1-5]
Beliau kembali membawa wahyu tersebut ke rumah Khadijah dengan hati bergetar. Beliau berkata : “Selimuti aku, selimuti aku.” Beliau pun diselimuti hingga hilang rasa takutnya. Beliau kembali berkata : “Wahai Khadijah, ada apa dengan ku.” Lalu beliau menceritakan peristiwa yang terjadi kepada Khadijah. “Aku mengkhawatirkan diriku” Khadijah berkata : “Bergembiralah, Demi Allah. Dia tidak akan mencelakakan mu selama – lamanya. Karena engkau adalah orang yang suka menyambung silaturrahim, selalu berkata jujur, meringankan beban orang lemah, memuliakan tamu, dan engkau selalu menolong dalam hal – hal yang baik (benar).”
Khadijah kemudian mengajak beliau bertemu dengan Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza putra paman Khadijah yang beragama Nasrani pada masa jahiliah. Waraqah bisa menulis dalam bahasa arab. Dia juga pernah menulis Injil dalam bahasa Arab. Saat itu, Waraqah sudah tua dan matanya buta. Khadijah berkata : “Putra pamanku, dengarkanlah apa yang akan disampaikan oleh putra saudaramu ini.” Waraqah bertanya : “Putra saudaraku, apa yang telah engkau alami.” Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam menuturkan peristiwa yang dialaminya. Waraqah berkata : “Ia adalah Namus (Jibril) yang pernah diutus Allah kepada Musa. Duhai, seandainya aku masih muda dan aku masih hidup saat engkau nanti diusir kaum mu.” Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bertanya : “Apakah aku akan diusir mereka?” Waraqah menjawab : “Ya, sebab tidak ada seorangpun datang dengan membawa wahyu seperti yang engkau bawa ini kecuali dia dimusihi. Seandainya aku ada saat kejadian itu, pasti aku menolongmu dengan semua kemampuan ku. Waraqah pun tidak mengalami peristiwa yang diyakinan nya tersebut karena lebih dahulu meninggal pada masa fatrah (kekosongan) wahyu.
Dimasa fatrah ini, Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam sangat sedih dan terpukul. Dari hadits – hadits yang sampai kepada kami, terlihat bahwa beliau sangat sedih hingga seperti orang yang ingin menjatuhkan diri dari puncak gunung yang tinggi. Namun setiap kali beliau sampai di puncak gunung, Jibril selalu menampakkan diri dan berkata : “Wahai Muhammad, engkau benar – benar seorang utusan Allah.” Hal itu membuat kegelisahan beliau menjadi hilang dan kembali merasa tenang, lalu beliau kembali ke rumah. Jika wahyu terputus lagi dalam rentan yang agama lama, beliau kembali melakukan hal serupa. Namun setiap beliau sampai di puncak gunung, Jibril menampakkan diri dan mengatakan hal yang sama.” [Shahih Bukhari : Hadits no 6982. Lihat juga hadits no 3, 4953, 4955, 4956, 4957]

---oOo---

8. Ayat yang terakhir kali turun.
واتّقوايوما ترجعون فيه إلي الله , ثمّ توفّى كلّ نفس مّاكسبت وهم لا يظلمون
“Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” [Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 281]

Ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam An-Nasa’I dan lain nya dari Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu dan Sa’id bin Jubair, “Ayat Al-Quran yang terakhir kali turun ialah ““Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” [Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 281]”

Tidak lama setelah ayat ini turun beliau wafat.

---oOo---

9. Hikmah Diturunkan nya Al-Qur’an Secara Berangsur-angsur Dari Bait Al-Izzah Langit Dunia ke dalam hati Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam.

Hikmah Turun nya Al-Qur’an secara bertahap yaitu :
Hikmah Pertama :
Untuk menguatkan hati Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam dan menguatkan jiwa beliau sebagaimana yang disebutkan didalam ayat “Supaya Kami perkuat hati mu dengan nya” Hal ini dapat kita lihat dari 5 sisi yaitu :
a. Sesungguhnya dalam penurunan wahyu secara berganti – ganti dan berulang – ulang turun nya malaikat jibril membawa wahyu kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam terdapat kegembiraan yang memenuhi hati beliau dan suka cita yang melapangkan dada beliau. Kedua kondisi ini memperbaharui semangat sebagai pengaruh adanya pertolongan Ilahi. Dan Allah memperbaharuinya kembali pada setiap kali pergantian turun wahyu tersebut.
b. Sesungguhnya penurunan sebagian demi sebagian ini merupakan kemudahan dari Allah Subhanahu wa ta’ala guna menghafal dan memahami Al-Qur’an, mengetahui ketentuan hukum dan hikmahnya, dimana kondisi tersebut memberikan ketentraman kepada Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam dan merupakan penguat jiwanya yang mulia atas kebenaran semua nya itu.
c. Sesungguhnya pada setiap kali penurunan yang berangsur angsur ini terdapat mukjizat baru bagi Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam dimana beliau menantang para penantang dan orang – orang yang keras kepala untuk mendatangkan hal serupa dengan Al-Qur’an, sehingga tampaklah kelemahan mereka dan tetaplah kebenaran Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam. Keadaan seperti ini tidak diragukan lagi merupakan penguat bagi hati Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam.
d. Sesungguhnya dalam memperkuat hati Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam dan mematahkan kebatilan musuh-musuh nya yang berulang – ulang merupakan pengulangan penguatan yang terus menerus sehingga memastikan kemantapan dan kekuatan hati Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam.
e. Allah Subhanahu wa ta’ala menjanjikan kepada Nabi-Nya kemenangan dan pertolongan ketika pertentangan keras dari musuh-musuhnya itu dengan sesuatu yang melunakkan kekerasan itu. Tidak diragukan lagi kekerasan terhadap Nabi terjadi dalam waktu yang berbeda – beda. Dengan demikian, tidak dipungkiri hiburan tersebut terjadi berulang kali dalam waktu yang mencukupi.
Maka setiap kali Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam di sesakkan oleh permusuhan dari orang kafir. Allah Subhanahu wa ta’ala menghiburnya dengan hiburan yang terkadang datang dengan cara menurunkan wahyu tentang kisah para Nabi dan Rasul sebelum beliau, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala :
وكلاّ نّقصّ عليك من أنباء الرّسل مانثبّت به فؤادك , وجآءك في هذه الحقّ ومو عظة وذكرى للمؤمنين
“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” [Al-Qur’an Surat Hud ayat 120]

Terkadang hiburan tersebut datang dengan bentuk janji Allah kepada beliau berupa pertolongan (kemenangan), penguatan dan pemeliharaan sebagaimana firman Nya :
واصبر لحكم ربّك فإنّك بأعيننا , وسبّح بحمد ربّك حين تقوم
“Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri” [Al-Qur’an Surat Ath-Thur ayat 48]
والله يعصمك من النّاس
“Dan Allah memelihara kamu dari gangguan manusia” [Al-Qur’an Surat Al-Ma’idah ayat 67]

Terkadang hiburan tersebut datang dengan cara memberi peringatan tentang musuh-musuh beliau, sebagaimana firman Nya :
سيهزم الجمع ويولّون الدّبر
“Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang.” [Al-Qur’an Surat Al-Qamar ayat 45]
فإن أعرضوافقال أنذتكم صعقة مّثل صعقة عاد وثمود
“jika mereka berpaling, maka katakanlah : “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir yang menimpa kaum Aad dan Tsamud” [Al-Qur’an Surat Fushilat ayat 13]

Terkadang hiburan itu datang dengan bentuk perintah untuk bersabar, sebagaimana firman Nya :
فأصبر كماصبر أولو العزم من الرّسل
“Maka bersabarlah kamu seperti orang – orang yang mempunyai keteguhan hati dari Rasul-Rasul (yang) telah bersabar.” [Al-Qur’an Surat Al-Ahqaf ayat 35]

Terkadang hiburan itu datang dengan bentuk larangan bersedih atas ketidakberimanan mereka (musuh-musuhnya), sebagaimana firman Allah :
فلا تـهذب نفسك عليهم حسرت
“Maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka.” [Al-Qur’an Surat Fathir ayat 8]
واصبر وما صبرك إلاّ بالله , ولا تـحزن عليهم ولا تك في ضيق مّمّايمكرون
“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaran mu itu melainkan dengan pertolongan Allah. Janganlah kamu bersedih hati terhadap kekafiran mereka dan janganlah sempit dada mu terhadap apa yang mereka tipu dayakan.” [Al-Qur’an Surat An-Nahl ayat 127]

Selain itu, Allah juga menghibur Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam dari perpalingan mereka dari iman dan seruan masuk islam, sebagaimana firman Nya :
وإنّ كان كبر عليك إعرضهم فإن استطعت أن تبتغى نفقا فى الأرض أو سلّما فى السمّآء فتاتيهم بئاية , ولوشآء الله لجمعهم على الهدى , فلا تكوننّ من الجهلين
“Dan jika perpalingan mereka (darimu) terasa amat berat bagimu, maka jika kamu dapat membuat lobang di bumi atau tangga ke langit lalu kamu dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka (maka buatlah). Kalau Allah menghendaki, tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang jahil” [Al-Qur’an Surat Al-An’am ayat 35]

Hikmah Kedua :
Penurunan Al-Qur’an secara berangsur – angsur berarti bertahap dalam mendidik umat Islam yang senantiasa tumbuh dan berkembang. Dalam hal ini mencakup 7 perkara :
a. Mempermudah menghafal Al-Qur’an karena kondisi mereka (para sahabat) tidak memungkinkan menghafal seandainya Al-Qru’an diturunkan kepada mereka sekali turun saja kepada mereka.
b. Bertahap dalam pemahaman Al-Qur’an dan mempermudah mereka didalam memahami dan menguasainya.
c. Bertahap dalam pembebanan kewajiban, baik itu shalat, puasa, zakat, haji, jihad dan ibadah lain nya atau muamalah yang lain.
d. Bertahap dalam pensucian mereka dari akidah (keyakinan) jahiliyah yang rusak dan batil, seperti syirik kepada Allah, pengingkaran akan hari kebangkitan, dan penolakan terhadap Rasul Allah.
e. Bertahap dalam pensucian mereka dari adat kebiasan yang jelek, yang telah melekat pada jiwa mereka, dimana hal itu tidak mungkin ditinggalkan secara sekaligus. Seperti tradisi minum khamar, makan harta riba dan lain sebagainya.
f. Bertahap dalam mendidik mereka dengan adat kebiasaan yang terpuji dan mulia. Seperti saling memaafkan, sabar, darmawan, memelihara hak tetangga dan lain sebagainya.
g. Memperkuat hati orang – orang Mukmin dan mempersenjatainya dengan keteguhan, sabar dan yakin, lantaran apa yang dijanjikan Allah kepada hamba Nya yang shaleh, berupa pertolongan, penguatan dan peneguhan sebagaimana firman Allah :
وعد الله الّذين ءامنوامنكم وعملوا الصّلحت ليستخلفنّهم فى الأرض كمااستخلف الّذين من قبلهم ولينكّننّ لهم دينهم الّذى ارتضى لهم وليبدّلنّهم مّن بعد خوفهم أمنا يعبدوننـى لايشركون بى شيئا , ومن كفر بعد ذلك فأولئك هم الفستون
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. " [Al-Qur’an Surat An-Nur ayat 55]

Hikmah Ketiga :
Mengikuti peristiwa dan perkembangan dalam pembaharuan dan penceraian nya. Maka setiap datang peristiwa baru, turunlah ayat Al-Qur’an yang sesuai dengan nya. Dan Allah Subhanahu wa ta’ala menjelaskan kepada mereka hukum-hukum-Nya yang sesuai dengan peristiwa tersebut sebagai antisipasi perkembangan masa. Hal ini mencakup 5 hal sebagai berikut :
a. Menjawab pertanyaan yang mereka ajukan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam, baik pertanyaan itu untuk menetapkan kerasulan nya atau pertanyaan tersebut untuk penjelasan mengetahui hukum baru dalam islam.
Sebagaimana firman Allah :
ويسئلونك عن الرّوح , قل الرّوح من أمر ربّى ومآ أوتيتم مّن العلم إلاّ قليلا
“Dan mereka bertanya kepada mu tentang ruh. Katakanlah (Muhammad) : “Ruh itu termasuk urusan Tuhan ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” [Al-Qur’an Surat Al-Isra ayat 85]

Juga firman Nya :
ويسئلونك عن ذى القرنين , قل سأتلواعليكم مّنه ذكرا
“Mereka bertanya kepada mu tentang Dzulkarnain. Katakanlah : “Aku akan bacakan kepada mu cerita tentangnya” [Al-Qur’an Surat Al-Kahfi ayat 83 sampai akhir surat]

Contoh lain nya , firman Allah :
ويسئلونك عن اليتمى , قل إصلاح لّهم خير , وإن تخالطوهم فإخونكم
“Dan mereka bertanya kepada mu tentang anak yatim, katakanlah : “Mengurus urusan mereka secara patut (baik) adalah baik, dan jika kamu menggauli mereka, maka mereka adalah saudara mu.” [Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 220]
b. Mengantisipasi masalah dan peristiwa – peristiwa pada masanya, sebagai penjelas hukum Allah Subhanahu wa ta’ala terhadap peristiwa – peristiwa tersebut ketika terjadinya.
Sebagaimana tentang peristiwa Dzihar, peristiwa Dusta terhadap Aisyah, peristiwa Li’an, peristiwa Pengalihan Kiblat dan lain nya.

Firman Allah Subhanahu wa ta’ala terhadap peristiwa Dusta terhadap Aisyah Radhiyallahuma :
إنّ الّذين جآءوبالإفك عصبة مّنكم , لاتحسبوه شرّالّكم , بل هو خير لّكم , لكلّ امرى مّنهم مّااكتسب من الإثم , والّذى تولّى كبره منهم له عذاب عظيم
“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar” [Al-Qur’an Surat an-Nur ayat 11]
c. Adanya keraguan yang merasuki dada orang – orang musyrik terhadap Al-Qur’an dan penurunan Al-Qur’an ini menolak keraguan mereka, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala :
وقال الّذين كفروا إن هذآ إلاّ إفك افترـه وأعانه عليه قوم ءاخرون , فقد جاءوظلما وزورا
“Dan orang-orang kafir berkata: "Al Qur’an ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad dan dia dibantu oleh kaum yang lain"; maka sesungguhnya mereka telah berbuat suatu kezaliman dan dusta yang besar. [Al-Qur’an Surat Al-Furqan ayat 4, baca sampai ayat 9]
d. Memalingkan penglihatan kaum Muslimin dari kesalahan mereka dan mengembalikan nya kepada kebenaran. Hal ini seperti ayat yang berkaitan dengan Perang Uhud dalam firman Nya :
“Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin Nya…..-sampai ayat 160- [Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 152-160]

Begitu juga tentang Peperangan Hunain yang diceritakan didalam surat at-Taubah ayat 25-27.
e. Menyingkap keadaan orang – orang munafik dan mengoyak/menyingkap tabir rahasia mereka bagi Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam dan orang – orang Muslim. Seperti Surat Al-Munafiqun dan surat al-Baqarah.

Ketiga hikmah (no 3) yang mencakup lima kandungan diatas telah ditunjukkan oleh ayat yang mulia dibawah ini :
ولا يأتونك بـمثل إلاّجئنك بالحقّ واحسن تفسيرا
“Tidaklah orang – orang kafir itu datang kepada mu (membawa) sesuatu yang ganjil melainkan Kami datangkan kepada mu sesuatu yang benar dan yang paling baik penjelasan nya.” [Al-Qur’an Surat Al-Furqan ayat 33]

10. Keutamaan Al-Qur’an Dibandingkan Seluruh Perkataan Lain nya.
Al-Bukhari berkata, Musaddad menceritakan kepada kami, Yahya menceritakan kepada kami, dari Sufyan, Abdullah bin Dinar menceritakan kepadaku, dia berkata. Aku mendengar Ibnu Umar Radhiyallahu'anhuma meriwayatkan dari Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam, beliau bersabda :
إنّما أجلكم في أجل من خلا من الأمم كما بين شلاة العصر ومغرب الشّمس . ومثلكم ومثل اليهود والنّصارى كمثل رجل استعمل عمّالا , فقال : " من يعمل لي إلى نصف النّهار على قيراط " , فعملت اليهود فقال : " من يعمل لي من نصف النّهار ‘لى العصر على قيراط , فعملت النّصارى . ثمّ أنتم تعملون من العصر إلى المغرب بقيراطين قيراطين , قالوا : نحن أكثر عملا وأقلّ عطاء , قال : هل ظلمتكم من حقّكم شيئا؟ قالو : لا . قال فذاك فضلي أوتيه من شئت [صحيح البخاري : الحديث5021]
"Sesungguhnya masa hidup kalian dibandingkan umat - umat terdahulu seperti antara waktu Ashar dan Maghrib. Perumpamaan kalian dibandingkan Yahudi dan Nasrani, seperti seseorang yang memperkerjakan buruh. Dia berkata : "Siapa yang bersedia bekerja untuk ku sampai siang dengan upah masing - masing satu qirath?" Maka Yahudi pun bersedia bekerja. Lalu dia kembali berkata : "Siapa yang bersedia bekerja untuk ku sampai Ashar?" Kaum Nasrani pun bersedia bekerja. Kemudian kalian bekerja dari Ashar sampai Maghrib dengan upah masing - masing dua qirath. Mereka berkata : "Kenapa kami yang lebih banyak bekerja mendapatkan upah lebih sedikit?" Orang itu berkata : "Apakah aku menzhalimi hak kalian?" Mereka (yahudi dan nasrani) berkata : "Tidak" Dia berkata : "Itulah keutamaan yang Aku berikan kepada orang yang Aku kehendaki." [Shahih al-Bukhari : Hadits no 5021]

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata :
"Korelasi pembahasan ini dengan penjelasan hadits ini adalah bahwa umat Islam, sekalipun usianya pendek - pendek, namun mengungguli umat - umat terdahulu mesikpun usianya panjang. Mereka (Umat Islam) memperoleh keistimewaan ini sebab keberkahan Al-Kitab yang agung ini yakni Al-Qur'an yang Allah lebihkan kemuliaan nya mengungguli seluruh kitab yang pernah Allah turunkan. Allah menjadikan nya sebagai saksi atas seluruh kitab yang diturunkan sebelumnya, menghapus dan mengakhiri dengan nya, karena kitab - kitab terdahulu diturunkan ke bumi secara sekaligus sesuai dengan berbagai peristiwa yang dihadapi. Karena kebutuhan yang teramat mendesak akan turun nya Al-Qur'an tersebut dan orang yang membutuhkan Al-Qur'an segera diturunkan kepadanya. Setiap kali diturunkan (nya Al-Qur'an), sama seperti turun nya satu dari sekian banyak kitab terdahulu.

Umat terdahulu yang paling agung adalah kaum Yahudi dan Nasrani, karena nya Allah memerintahkan mereka -Yahudi- untuk beramal sejak masa Nabi Musa hingga masa Nabi Isa, sedangkan kaum Nasrani sejak masa Nabi Isa sampai Allah mengangkat Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam sebagai Rasul, kemudian Allah memerintahkan umatnya untuk beramal hingga hari Kiamat yakni hari yang sama dengan akhir daripada siang.

Allah memberikan umat - umat terdahulu pahala masing - masing satu qirath, sedangkan mereka -yakni Umat Islam- Allah memberi mereka pahala masing - masing dua qirath, dua kali lipat yang diberikan kepada Yahudi dan Nasrani, lalu mereka (yahudi dan nasrani) mengadu " Ya Tuhan kami, kami tidak memiliki amal yang banyak, dan paling sedikit pahalanya? Lalu Allah menjawab : "Apakah aku telah mengurangi pahala kamu sedikitpun?" Mereka menjawab : "Tidak" Maka Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman : "Itulah kelebihan Ku, yang Aku berikan kepada orang Ku kehendaki." Sebagaimana firman Allah Ta'ala :
يأيّها الّذين ءامنوا اتّقوا الله وءامنوا برسوله يؤتكم كفلين من رّحمته ويجعل لّكم نوراتـمشون به ويغفرلكم , والله غفور رّحيم . لّئلاّيعلم أهل الكتب ألاّ يقدرون على شىء مّن فضل الله , وأنّ الفضل بيد الله يؤتيه من يشآء , والله ذوالفضل العظيم
"Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Kami terangkan yang demikian itu) supaya ahli Kitab mengetahui bahwa mereka tiada mendapat sedikitpun akan karunia Allah (jika mereka tidak beriman kepada Muhammad), dan bahwasanya karunia itu adalah di tangan Allah. Dia berikan karunia itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar." [Al-Qur’an surat Al-Hadiid ayat 28-29]

---oOo---
semoga bermanfaat.
-bersambung kepada pembahasan yang lain, insya'Allah.-

Abu Abdillah Prima Ibnu Firdaus Ar-Roni al-Mirluny
Desa Merlung, Jumat : 6 Syawal 1433 H / 24 Agustus 2012 M

Tidak ada komentar:

Posting Komentar